Melalui kegiatan bertemu komunitas, mengumpulkan materi, mendigitisasi sebagian materi, membuat daftar dan berdialog dengan teman-teman queer di Yogyakarta (difasilitasi oleh Residensi MARANTAU), #ArsipTerbuka adalah rangkaian presentasi akhir Sidhi Vhisatya sebagai perwakilan dari Queer Indonesia Archive (QIA).
#ArsipTerbuka pada awalnya diniatkan sebagai laboratorium fisik (in-person), ruang untuk publik bisa bersama-sama mengalami materi-materi yang dikumpulkan QIA di Yogyakarta melalui pilihan-pilihan kegiatan pengarsipan: membaca, mendigitisasi, membuat daftar, mengkurasi dan menuliskannya ulang. #ArsipTerbuka lahir dari beragam pertanyaan tentang kerja-kerja pengarsipan; bagaimana kita bisa mengevaluasi bias arsiparis, bagaimana arsip digital bisa menciptakan ruang aman, siapa publik dari arsip (khususnya yang berfokus pada isu queer di Indonesia) dan bagaimana melibatkan mereka dalam proses pengarsipan? Dan pertanyaan lain yang akan terus bertambah dalam perjalanan kerja QIA.
Tuntutan beradaptasi dengan situasi pandemi membuat kami memutuskan untuk menjadikan #ArsipTerbuka ini sebagai laboratorium online. Kami menyadari bahwa kerja pengarsipan sejatinya adalah kerja yang selalu dalam progress, sehingga halaman ini akan terus kami perbaharui.
Sejarah organisasi transpuan di Yogyakarta
Dalam #ArsipTerbuka: Merekam, Mencari dan Menemukan, kami menggunakan fragmen sebagai unit naratif untuk mengelompokkan dan menceritakan ulang lintasan sejarah queer di Yogyakarta berdasarkan materi dan kata kunci yang sudah terkumpul. #ArsipTerbuka ini tidak mencoba untuk menjadi komprehensif dan di saat yang sama memiliki banyak cerita yang tidak lengkap.
Kami berharap, selain memantik diskusi tentang berbagai macam pembungkaman dan persekusi yang beruntun di tahun 2010-2016, dengan #ArsipTerbuka ini, kita juga bisa melihat berbagai hal yang perlu kita rayakan ketika berbicara tentang kisah queer di Yogyakarta.
Sumber gambar: Harian Bernas, 14 Juni 1980
Sebagai titik awal untuk memperdalam pemahaman saya tentang dinamika kehidupan queer di Yogyakarta, saya mengutip beberapa fragmen dan wawancara yang berkaitan dengan organisasi-organisasi yang muncul di akhir tahun 90-an sampai awal tahun 2000-an. Melalui penelusuran dan beberapa kali proses verifikasi, fragmen dan wawancara membantu saya untuk melengkapi sketsa timeline tentang Yogyakarta
Salah satu proses yang QIA lakukan untuk mempersiapkan aktivitas turun lapangan adalah membentuk kelompok relawan di masing-masing kota yang dituju. Kami berkolaborasi untuk melengkapi timeline sejarah dan mencari sebanyak-banyaknya informasi melalui jaringan yang ada di kota tersebut. Salah satu yang kami temukan dalam proses ini adalah informasi tentang Yosie Hanna dengan Warung Wadam-nya dan Henny Soetopo dengan tiga diary yang dia tulis.
Dengan informasi tentang Yosie Hanna dan catatan mami Henny, saya menelusuri beberapa artikel di tahun 1980-an dari harian Kedaulatan Rakyat dan Bernas yang terbit di Yogyakarta. Dalam beberapa pertemuan dengan kawan-kawan transpuan, saya mengkonfirmasi beberapa materi tentang perjalanan organisasi transpuan yang saya dapati.
13 Juni 1980, Yosie Hanna, Henny Sutopo dan 10 transpuan lain mendatangi Balai Wartawan Yogyakarta. Berbekal kesadaran tentang perlunya mendirikan organisasi, mereka membentuk kepengurusan sementara dan mendeklarasikannya di depan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Yogyakarta, dengan Yosie Hanna sebagai ketua, Henny Sutopo sebagai sekretaris, Yetty Novita dan Hemy S. sebagai bendahara. Cara ini ditempuh setelah niat mereka untuk mendirikan organisasi yang resmi tidak mendapat restu dari pemerintah daerah.
Setelah deklarasi tersebut, mereka memutuskan untuk memakai nama Warung Wadam. Kata warung, bagi mereka, adalah simbol “merakyat”, untuk menjangkau semua anggota komunitas, baik yang nyebong di sekitar Stadion Mandala Krida, yang memiliki usaha salon, pedagang kecil, maupun anak-anak muda yang baru mlethek. Nama kelompok ini, di kalangan anggota komunitas juga dikenal sebagai Gado-Gado Wadam.
Catatan: Nyebong adalah istilah komunitas yang awalnya dipakai untuk merujuk pada aktivitas mencari klien (laki-laki) oleh pekerja seks gay/waria. Untuk membedakannya dengan aktivitas berkumpul yang tidak selalu melibatkan transaksi uang/jasa, komunitas memakai istilah Ngaprak (dipakai di Jakarta dan Jogja) atau Ngeber (Surabaya). Istilah Ngalang, yang banyak dipakai di Makassar, awalnya merujuk pada kegiatan cari laki-laki yang transaksional. Dalam perkembangannya, istilah ini mengalami perluasan makna menjadi cari laki-laki (bisa transaksional, bisa sosial, bisa romantis).
Pusat kegiatan Warung Wadam/Gado-Gado Wadam adalah lantai dua Toko Hien, di Jalan Malioboro. Di waktu yang sama, Teater Republik yang didirikan oleh Yoyok Aryo juga melakukan kegiatan di sepanjang area tersebut. Melalui pertemuan-pertemuan mereka, Teater Republik menyanggupi untuk melatih para transpuan membaca puisi, melakukan olah tubuh dan hal-hal teknis teater. Mereka mendukung rencana kelompok ini untuk mengadakan pementasan Poetry Dancing Manusiawi (PDM), 7 Juli 1980, di Sportshall Kridosono. Masing-masing anggota menulis sendiri pengalaman sebagai seorang transpuan dan protes atas ketidakadilan yang mereka dapatkan di zaman itu dalam bentuk puisi. Dibantu Teater Republik dan pemusik dari Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), puisi yang mereka buat dipentaskan dengan disertai olah tubuh dan tari.
Relasi dengan Teater Republik terjalin lintas waktu. Dalam kepengurusan sementara Warung Wadam, Yoyok Aryo ditunjuk oleh Yosie Hanna sebagai pembina bersama Yuyun Sanjaya. Dari sana, Teater Republik beberapa kali melibatkan anggota Warung Wadam dalam pertunjukan-pertunjukan lain. Warung Wadam/Gado-Gado Wadam pada akhirnya dikenal sebagai kelompok seni pertunjukan.
Di saat yang sama, kelompok transpuan juga hidup dengan berbagai macam tantangan. Mereka perlu wadah lain untuk mendiskusikan hal-hal yang terkait dengan keamanan tempat nyebong dan kesejahteraan individu transpuan. Shinta Ratri dan Ricky, dua transpuan muda yang aktif di komunitas Alun-Alun Utara waktu itu, kemudian menginisiasi pembicaraan untuk membentuk organisasi resmi bernama Ikatan transpuan Yogyakarta (IWAYO).
"Kami membuat organisasi IWAYO itu tahun 82, saya sama Mbak Ricky. Karena kami masih muda, kami kemudian mencari orang yang berpengaruh dan disegani, akhirnya kami memilih Mami Topo (Henny Soetopo) itu untuk jadi ketua. Ada 62 waria yang ikut. Kami dulu pemilihan di gedungnya Pemerintah di P&K di Kota Baru.
Kami dulu punya Akta Notaris dan AD/ART, sudah formal, bahkan tahun berikutnya 84-85, kita mendapat bantuan dari Dinas Sosial Yogyakarta berupa latihan salon untuk kelompok KUB (Kelompok Usaha Bersama). Di Alun-Alun Utara itu awalnya (kawan-kawan) hanya ngobrol-ngobrol dan nongkrong-nongkrong. Nah, karena waktu itu sudah ada organisasi, dan dapet dukungan dari kawan-kawan. Jadi, waktu itu ada iuran bulanan, ada pendaftaran anggota. Jadi, artinya kita benar-benar sebagai organisasi yang mandiri dari bawah." (Shinta Ratri, sekarang Ketua Pesantren Al-Fatah)
Henny Soetopo dipilih sebagai ketua pertama IWAYO pada tahun 1982. Salah satu kegiatan rutin yang diorganisasi oleh Henny dalam masa kepemimpinannya adalah eksibisi olahraga. Teman-teman transpuan sering menjadi tamu undangan di pertandingan voli dan sepak bola antar klub profesional di Yogyakarta dan sekitarnya. IWAYO juga sering mengirimkan wakilnya untuk bertanding di kompetisi olahraga khusus transpuan.
Setelah melalui lima kali pergantian ketua, pada 1990, Ricky, salah satu pendiri organisasi ini, dipilih menjadi ketua. Pada masa kepemimpinan Ricky, IWAYO berubah nama menjadi Paguyuban Waria Mataram (PAWAMA).
Pergantian nama ini juga menandai pergantian dinamika organisasi. PAWAMA diajak berkolaborasi oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta. Kolaborasi ini adalah salah satu strategi pendekatan PKBI untuk menjalankan program kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan kelompok gay dan transpuan.
“Waktu itu ada kursus potong rambut, gurunya Mbak Ricky itu untuk umum. Mbak Ricky dan Pawama bisa berkantor di PKBI. Sejak itu, PKBI aktif melakukan aktivitas dengan komunitas waria di Yogyakarta, dengan melakukan pertemuan-pertemuan membahas kehidupan waria di waktu itu, misalnya.” (Vinolia Wakijo, pemimpin Keluarga Besar Waria Yogyakarta (Kebaya))
Kerja sama ini berlangsung setidaknya hingga tahun 1992. Di tahun ini, PAWAMA tidak lagi aktif. Seluruh kegiatan pengorganisasi transpuan dialihkan dalam program-program PKBI: Sahabat Remaja (SAHAJA) pada tahun 1992-1993 dilanjutkan dengan Lentera (1993-awal tahun 2000-an). Lentera adalah program yang dibuat PKBI khusus untuk merespon isu HIV/AIDS.
Karena kevakuman tersebut, komunitas transpuan berkumpul sesuai dengan kondisi dan minatnya masing-masing. Mereka mendirikan sub-sub komunitas yang didasarkan pada lokasi geografis: kesamaan area mukim atau tempat mangkal.
"Orang Lentera waktu itu kan turun lapangan, saya masih nyebong. Nah di lapangan itu ternyata nyambung sama Mami. Waktu itu saya tanya, boleh gak sih kalau aku bergabung ke Lentera. Dijawab, ya nanti ikut aja, nanti kami kasih undangan untuk pertemuan ya. Undangannya dulu dikirim lewat pos. Jadi dari situ, aku mulai ikut pertemuan. Saya, waktu itu gak sendiri.
Ada mbak Ririn dan mbak Ria, kita bertiga waktu itu. Tahun 93 itu PAWAMA sudah gak aktif dan keluar dari PKBI, sehingga kami bertiga yang melanjutkan mengumpulkan teman-teman. Akhirnya, kami ikut pelatihan. Salah satu yang dibahas itu tentang waria. Pelatihan pertama waktu itu namanya Pelatihan Penurunan Risiko. Terus kemudian, secara tidak langsung kegiatan-kegiatan waktu itu diurus oleh saya dan dua relawan waria lain. Kami bekerja atas nama Lentera." (Vinolia Wakijo)
Pasca bubarnya PAWAMA, mulai tahun 1993, semua kegiatan transpuan menjadi dampingan program Lentera. Dalam masa ini, sebagai sukarelawan di Lentera, Mami Vin--panggilan akrab Vinolia--mempunyai peran penting untuk menjangkau teman-teman transpuan di berbagai lokasi. Mami Vin mengunjungi tempat-tempat nyebong untuk memberi informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS dan membagi kondom. Selain itu, tugas-tugas pendampingan transpuan yang sakit dan meninggal juga diorganisasi oleh Mami Vin.
“Dulu modalnya berani atau nekad. Ada waria yang harus operasi waktu itu, dokter belum akan melakukan tindakan kalau belum ada dp (deposit--uang muka). Sementara kita orang gak punya uang semua, DP gimana. Saya marah waktu itu, dp apa? Ya carikan keluarganya dong, dijawab gitu. Saya bilangin, tahu gak, keluarganya kan kita.
Waria-waria ini itu udah keluar dari rumah, gak punya keluarga, keluarganya ya cuman waria. Yang ngurusi ya cuma saya, kalau kemudian temen waria ini gak diambil tindakan dan harus ada uang, percuma tuh. Aku marah waktu itu, tapi dengan kemarahanku akhirnya (ada tanggapan) baik. Aku akhirnya dipanggil dan disuruh cerita tentang kondisi waria.
Saya jelasin, saya aja terusir dari keluarga, waria Jogja kalau gak ada yang ngurusin siapa yang ngurusin, ga ada. Ini kami mau ngurusin temen-temen waria. Akhirnya mereka rapat, diambil tindakan habis itu dan gak bayar gratis semua. Aku dulu modal nekad, apa yang bisa membuat orang-orang mati kutu." (Vinolia Wakijo)
Setelah melakukan pendampingan selama kurang lebih lima tahun, Mami Vin merasa perlu untuk mengaktifkan kembali organisasi transpuan. Inisiatif ini dilakukan supaya nasib teman-teman transpuan bisa dipikirkan bersama-sama dengan anggota yang lain. Pada tahun 1998, bersama dengan Ibu Mariani yang waktu itu adalah pengusaha salon kecantikan, Mami Vin mendirikan Himpunan Waria Mataram (Hiwama).
Salah satu hajatan besar Hiwama waktu itu adalah mengirimkan tim olahraga transpuan ke turnamen voli dan sepakbola yang diadakan oleh jaringan transpuan nasional. Tim ini berangkat dengan sumbangan dari teman-teman transpuan yang memiliki usaha salon di Jogja. Sesudah itu, tidak banyak kegiatan lain yang dilakukan. Akibat struktur yang tidak kuat dan kesibukan masing-masing, organisasi ini bertahan selama enam bulan sebelum akhirnya bubar. Pasca Hiwama, kegiatan-kegiatan komunitas transpuan kembali menjadi dampingan Lentera.
Pada tahun 2005, Mami Vin memutuskan untuk lepas dari PKBI. Sesuai dengan panggilan hati dan dorongan dari pihak-pihak yang berfokus pada isu HIV/AIDS, Mami Vin mendedikasikan diri pada pemenuhan hak kesehatan transpuan tanpa melalui program Lentera.
"Di 2006 ada gempa bumi, padahal waktu itu masih ada sekitar 12 orang yang hidup dengan HIV. Padahal lagi, waktu itu ARV susahnya minta ampun. Kalau ambil obat itu kan hanya untuk 3 hari, besoknya dateng lagi, pas itu gempa bumi lagi. Waktu mau ambil obat itu ga bisa maju karena kan dulu korban gempa bumi banyak, bagaimana mau masuk (Rumah Sakit). Pasti dokter-dokter itu sibuk dengan pasien-pasien itu, padahal si A mau minum (ARV), si B mau minum juga tapi ga ada stoknya.
Karena kebingungan itu, saya bertemu salah satu dokter yang bisa memberikan akses ke obat ARV. Teman-teman akhirnya terselamatkan dan bisa ambil obat. Jadi orang-orang membuat satu berita tentang kondisi waria Jogja yang terdengar oleh lembaga donor." (Vinolia Wakijo)
Di awal tahun tersebut, ketersediaan fasilitas penunjang kesehatan dan obat antiretroviral (ARV) untuk orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHIV) belum memadai, khususnya untuk kalangan transpuan. Di saat yang sama, sumber-sumber pendanaan untuk isu kesehatan publik di Indonesia belum banyak menyentuh komunitas di Yogyakarta.
Pada tahun 2006, pasca gempa Jogja, setelah pemberitaan tentang kondisi transpuan di Jogja tentang carut-marut distribusi ARV, lembaga donor mulai menaruh perhatian ke komunitas-komunitas di Yogyakarta. Tahun itu juga, Mami Vin bersama perwakilan transpuan lain mendirikan Keluarga Besar Waria Yogyakarta (Kebaya) untuk mengelola dana dari UNAIDS. Dana ini dialokasikan untuk penanganan HIV/AIDS di komunitas transpuan di Yogyakarta. Sebagai salah satu respon atas dana tersebut, Kebaya mendirikan shelter bagi publik--tidak hanya terbatas pada komunitas transpuan--yang hidup dengan HIV/AIDS.
Jika Mami Vin berfokus pada isu kesehatan publik untuk transpuan, Bu Mariani--yang bersama mami Vin mendirikan HIWAMA--berfokus ke penciptaan ruang religi yang ramah terhadap transpuan. Ruang ini dibentuk secara organik pasca gempa 2006. Kelompok transpuan berkumpul untuk berdoa bagi korban gempa khususnya dari komunitas transpuan, sekaligus untuk memperkuat rasa spiritual. Atas saran K.H. Hamroeli yang saat itu diundang sebagai ustadz untuk mengisi pengajian, komunitas ini kemudian mendirikan Pondok Pesantren Senin-Kamis (Ponpes Senin-Kamis) di kediaman Bu Mariani pada 28 Juli 2008.
"Awalnya, kita doa bersama untuk mendoakan kawan-kawan sesudah gempa di Kotagede, itu lintas iman. Mengundang romo dari Kidul Loji di BI, mengundang pendeta juga, terus kita ngundang kiai. Kemudian di situ, sesudah itu, kami mengikuti pengajian sebulan sekali oleh Pak Ham, majelis mujahadah Al-Fatah. Kami menjadi bagian dari jamaah, maka nama kami diambil dari situ.
Waktu itu sempat juga ada tulisan di Minggu Pagi yang ditulis Pak Hamroeli yang bilang ponpes ini untuk mengembalikan ke kodrat, kami kemudian protes di jalan Tugu itu rame-rame. Pada waktu itu, ditemuin wartawannya, katanya, saya cuman disuruh, ini lho tulisannya. Paginya, kami rame-rame ke rumah Pak Ham. Sejak itu, Pak Ham mengundurkan diri. Sempat dua tahun tidak ada kyai, terus mulai lagi dipimpin Ustad Abdoel Muiz Gazali." (Shinta Ratri, Ketua Pesantren Al-Fatah)
Dalam perjalanannya, komunitas ini sempat melakukan protes ke kantor Kedaulatan Rakyat (KR), karena Minggu Pagi--salah satu harian yang diterbitkan oleh grup KR--memuat artikel yang melukai hati komunitas transpuan. Dalam artikel--yang masih dalam pencarian--ini, Minggu Pagi memuat tulisan KH Hamroeli yang menyatakan bahwa Pondok Pesantren ini dibentuk untuk mengembalikan kodrat mereka sebagai laki-laki. Protes juga dilakukan komunitas transpuan di kediaman KH Hamroeli yang akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai uztadz pendamping Ponpes Senin-Kamis.
Pasca meninggalnya Bu Mariani di tahun 2014, kepemimpinan Ponpes Senin-Kamis beralih ke Bu Shinta Ratri dan berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Fatah. Selain melakukan kegiatan internal, Ponpes ini juga aktif mengisi diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan agama dan identitas mereka sebagai transpuan.
Bangkitnya semangat transpuan untuk berorganisasi berimbas pada pembicaraan tentang pengaktifan kembali IWAYO pada tahun 2010. Dengan bantuan dari PKBI, IWAYO diurus akta notarisnya yang baru. Pada proses pembentukan ulang organisasi tersebut, komunitas transpuan melakukan pemilihan ketua. Bu Mariani, yang juga mendirikan Hiwama tahun 1998, terpilih menjadi ketua mengalahkan tiga kandidat lain. Masa kepemimpinan Bu Mariani hanya berlangsung tiga bulan karena, di saat yang sama, dia juga menjabat sebagai ketua Pondok Pesantren Senin-Kamis. Posisi Bu Mariani digantikan oleh Bu Shinta Ratri. Sejak tahun 2010, IWAYO sudah melewati setidaknya 5 kali pergantian periode kepengurusan.
Kini, IWAYO bersama dua organisasi lain, Kebaya dan Pondok Pesantren Al-Fatah (Ponpes Al-Fatah), adalah tiga organisasi berbasis komunitas transpuan yang ada di Yogyakarta. Mereka menjadi payung bagi delapan organisasi berbasis lokasi lain. Salah satu program yang mereka jalankan sekarang ini adalah penyediaan rumah singgah untuk transpuan lansia melalui Waria Crisis Centre (WCC).
Selain tiga organisasi tersebut, beberapa transpuan yang hidup di jalanan Jogja mendirikan Eben Ezer. Organisasi ini awalnya dibentuk sebagai kelompok komunitas yang berfokus di isu-isu kaum miskin kota.
"Saya banyak mengenal banyak mami-mami yang sudah sepuh, ada seorang transpuan yang saya jumpai di Bandung tapi kemudian pindah ke Jogja, tapi kadang dia kayak laku ritual. Kadang tampil sebagai waria, kadang mengemis di pasar. Terus saya jumpa dengan waria lain yang nyentrik, jual bawang di pasar. Mereka waria yang totalitas. Akhirnya kita mengorganisir teman-teman (waria, pedagang, anak jalanan) di situ, pengurusnya hampir semua transpuan.
Salah satu transpuan yang punya peran khusus itu Mbak Vera Enindra Dewi, orang Klaten. Dia pengamen, aktivis juga yang banyak mempengaruhi konsep kerja seni kawan-kawan yang tidak mau dianggap sebagai orang jalanan. Gencar dia melakukan perlawanan.
Dulu, sering kita datang ke Lembaga Ombudsman. Itu yang menjadi salah satu wadah perjuangan dan perlawanan perda itu. 10 Oktober 2007, Eben Ezer berdiri. Diinisiasi oleh tiga transpuan. Fokus kami, satu, memfasilitasi kawan-kawan yang mengalami permasalahan di akses pelayanan kesehatan dan identitas kependudukan. Karena banyak orang-orang yang pergi bertahun-tahun dari rumahnya.
Perjuangan panjang itu menghasilkan 15 KTP untuk transpuan di tahun 2014. Itu ya prestasi pertama yang bisa dicapai oleh Eben Ezer. Kebetulan pas dengan kebijakan pendataan kembali kependudukan rentan, jadi waktu itu kawan-kawan itu bisa terfasilitasi dengan baik. Dan yang lainnya ya penjangkauan, dalam arti memberikan sosialisasi tentang isu HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, gender dan seksualitas termasuk konteks perlindungan anak." (Rully Malay, salah satu pendiri Eben Ezer)
Kerja organisasi ini adalah kerja lintas isu. Organisasi ini lahir dari kebutuhan para transpuan yang hidup di jalan, orang-orang jalanan dan kaum miskin kota lain untuk melakukan perlawanan atas rencana peraturan daerah tentang penanganan gelandangan dan pengemis (raperda gepeng) yang disahkan menjadi Peraturan Daerah (Perda) pada tahun 2014.
Dalam gerak perjuangannya, Eben Ezer menjadi salah satu organisasi yang membentuk Kaukus Perda Gepeng. Mereka mempertanyakan pengertian ‘gelandangan’ dan ‘pengemis’ yang tidak jelas pada Perda tersebut yang berujung pada kriminalisasi kaum miskin kota. Selain itu, mereka juga mengecam berbagai potensi tindak penangkapan tanpa bukti, kekerasan, pengabaian di Camp Assessment dan pemaksaan ekspresi gender sebagai dampak atas pengesahan Perda Gepeng.
Melalui organisasi ini, teman-teman transpuan juga melakukan berbagai siasat untuk menghapus stigma tentang komunitas mereka, salah satunya yang berkaitan dengan isu pedofilia. Eben Ezer berkomitmen untuk menjadikan komunitas transpuan sebagai jaring pengaman sosial.
"Kami sebelum Eben Ezer sampai berdiri, kami memulangkan anak-anak kecil ke kampung halamannya masing-masing. Tapi ternyata banyak yang tidak punya kampung halaman, banyak yang lahir di jalan. Akhirnya, menjadi perhatian khusus gitu, karena ada isu-isu pedofil yang selalu menyalahkan LGBT.
Kami geram, kami buktikan bahwa semua teman-teman transpuan itu adalah jaring pengaman sosial, mereka melindungi anak-anak ini, mereka fasilitasi. Dan itu yang kemudian membuat hal yang membuat Eben Ezer itu melakukan hal-hal, kerja-kerja kecil-kecil, tanpa lembaga donor itu bisa mewujudkan sesuatu yang bagus. Lalu kemudian, kita membuat dokumentasi perlindungan anak. Kerja ini kemudian diambil alih oleh Kebaya. Ini dokumen yang isinya bahwa teman-teman transpuan melindungi anak-anak yang hidup di jalan." (Rully Malay)
Dalam perjalanan pengorganisasian komunitas transpuan, mereka mulai menyadari pentingnya terlibat dalam dan membentuk jaringan yang interseksional. Kegiatan-kegiatan di Lentera adalah salah satu yang punya peran dalam proses pertemuan kelompok transpuan dengan kelompok kunci--yang dalam bahasa pemrograman HIV/AIDS berarti populasi yang rentan dan perlu mendapat perhatian khusus.
Konsolidasi teman-teman transpuan dalam gerakan interseksional ini mulai diperkuat sejak awal 2000-an, salah satunya melalui pembentukan organisasi-organisasi yang memfokuskan diri pada advokasi dan isu-isu HAM, seperti Komunitas Pelangi Yogyakarta. Kesadaran ini juga mulai diimplementasikan dari dalam komunitas transpuan dengan mengirimkan perwakilan organisasi untuk terlibat dalam jaringan perempuan.
"Kita sempat terjunkan salah satu anggota kami ke jaringan perempuan. SP Kinasih, Rifka Anissa, untuk fokus kekerasan terhadap temen-temen perempuan dan transpuan. Dan waktu di Eben Ezer lama suka datang kawan-kawan aktivis, kayak Pelangi Jogja. Jadi Dodok ini kan suka dandan, dia dandannya di Eben Ezer. Kalau kami mau mangkal, dandannya di tempat kami di dusun kembang, Maguwo." (Rully Malay)
Perjalanan komunitas gay di Yogyakarta
Lambda Indonesia (LI) adalah organisasi gay pertama yang didirikan di Indonesia pada 1 Maret 1982 di Solo. Organisasi ini terbentuk setelah tiga pendirinya melakukan komunikasi, baik melalui surat menyurat dan pertemuan langsung, selama tiga tahun. Korespondensi ini juga mereka jalin dengan banyak individu gay lain di Indonesia. LI aktif selama dua tahun sebelum bertransformasi menjadi Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN) atau yang lebih dikenal sebagai GAYa NUSANTARA.
Gambar: Mars PGY, Koleksi Pribadi Andre
Sebelum LI dibentuk, Dede Oetomo aktif mengirimkan tulisan melalui majalah Zaman. Melalui tulisan-tulisan tersebut, Dede mendapat berbagai tanggapan dan mulai berkorespondensi dengan individu-individu gay lain di berbagai kota di Indonesia, salah satunya dengan Andre--mahasiswa yang tinggal di Jogja. Sepulang dari studinya di Amerika, Dede Oetomo melakukan kunjungan ke beberapa kawan korespondennya.
"Memang yang pertama kan Dede, sering nulis di majalah zaman. Sekarang sudah gak ada (sudah tidak terbit majalahnya). Dia menulis, kemudian aku liat, terus aku komunikasi. Waktu dia balik dari amerika, dia mampir ke Jogja, kami ngobrol-ngobrol. Dia secara gak langsung mendorong orang lain untuk bikin juga.
Saya inget-inget lagi, dulu waktu masih brondong ga ada takut-takutnya, sekarang ada self-censor-nya lah. Kalau yang di Jogja, kami gak pakai GAYa karena kami berdiri sendiri, terus di akhir-akhir ikut jaringannya. Aku waktu itu nulis di koran, di majalah, terus orang-orang mulai nyuratin. Ya, zaman itu kan namanya kota kecil ya, dari satu orang kedengeran ke orang lain, perkumpulan ini udah terkenal. Zaman dulu kita kan mahasiswa, tapi kecil-kecil (mahasiswa) waktu itu, kalau bikin acara bisa ngumpulin orang-orang gede (komunitas gay yang lebih dewasa)." (Andre, Pendiri Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY))
Korespondensi dan pertemuan dengan Dede Oetomo menjadi penyemangat bagi Andre dan delapan individu gay lainnya untuk mendirikan Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY) pada 13 Januari 1985.
Organisasi kekeluargaan ini dengan sangat terbuka akan menerima keikutsertaan siapa saja dari segala kalangan masyarakat gay untuk bersama-sama menciptakan suatu lingkungan hidup yang akomodatif bagi keberadaan kita, dan membina hubungan harmonis yang saling membangun di antara kita.
Untuk sementara kegiatan kita adalah menerbitkan buletin JAKA secara rutin sebagai alat komunikasi dan wadah penyaluran aspirasi maupun bakat menulis bagi para anggota khususnya, masyarakat gay umumnya. Disamping itu telah menjadi kesepakatan pengurus untuk mengadakan program Arisan yang pada hakekatnya lebih merupakan sarana untuk berkumpul. Di mana setelah acara arisan yang sekunder berlangsung, maka direncanakan akan diisi dengan berbagai acara yang sekiranya mendatangkan manfaat seperti: diskusi, ceramah, kesempatan menyuarakan pendapat; saran & keluhan tertentu, atau menceritakan pengalaman-pengalaman khusus.
Sedang kegiatan lain di masa mendatang diharapkan bisa muncul dari ide-ide para anggota, terutama kegiatan kegiatan di bidang sosial atau yang dapat lebih meningkatkan keeratan hubungan, rasa kekeluargaan di antara kita. Tentunya kita juga tidak akan melupakan hubungan antara kita dan masyarakat luas. (Majalah Jaka Ed 1, 1 Feb 1985)
Anggota-anggota PGY punya latar profesi yang beragam dan sebagian besar dari mereka masih belajar sebagai mahasiswa. PGY menggunakan metode arisan, mengumpulkan anggota setiap minggu pertama awal bulan untuk memfasilitasi beragam agenda kegiatan mereka. Dalam arisan ini, anggota dilibatkan dalam pengelolaan majalah komunitas mereka, Jaka.
"Biasanya kita akan dibagi oleh pengurus ke dalam beberapa kelompok kalau pas kumpul-kumpul arisan. Nah, tiap kelompok ini nanti dibagi beberapa surat pembaca yang dikirim ke alamat PO BOX-nya PGY dan kita omongin bareng-bareng. Biar kita lebih paham sama lebih banyak topik, seringkali ada seminar atau ada tamu expert yang diundang, misalnya yang berkaitan sama hukum, psikologi, HIV/AIDS." (Endi, salah satu anggota PGY dan ilustrator GAYa NUSANTARA)
Pada November 1987, dengan misi untuk memperbesar jangkauan organisasi dari lingkup regional ke nasional, PGY mengganti namanya menjadi Indonesian Gay Society (IGS). Arisan masih menjadi metode pertemuan regular, selain seminar, renang bersama dan pesta.
Dalam hal pengelolaan media komunitas, majalah Jaka mengalami pasang surut mengikuti dinamika organisasi. Edisi pertama mereka terbit pada Februari 1985 dan beredar sangat terbatas hanya 30 eksemplar. Setelah melakukan penerbitan rutin, minat terhadap majalah ini semakin besar dan lingkup distribusinya pun semakin luas.
"Jaka itu awalnya untuk komunikasi antar anggota. Kan anggotanya gak semuanya di Jogja. Jadi, langganan terbatas ke anggota aja. Biasanya yang jadi redaktur, ya pengurusnya IGS." (Andre)
Dalam Jaka, kontributor dan pengelolanya banyak mengulas topik yang terkait dengan cinta, hubungan, kehidupan seks, keluarga dan hidup sebagai seorang gay. Majalah Jaka juga merupakan publikasi berbasis komunitas pertama yang mengulas isu HIV/AIDS. Salah satu yang menarik dari Jaka adalah penggunaan komik sebagai metode penceritaan, dengan karakter bernama Jaka sebagai tokoh utamanya.
Setelah edisi ke-18 majalah Jaka, pengurus IGS lulus kuliah satu per satu. Kelompok ini sempat vakum selama dua tahun. Pada 17 April 1990, kelompok ini mulai aktif kembali. Mereka lahir dengan satu nama baru, Kelompok Kajian Gaya Nusantara (KKGN) tanpa menghilangkan nama IGS. Dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan jaringan GAYa NUSANTARA, mereka memakai nama KKGN. Untuk urusan-urusan yang lebih mandiri, mereka mempertahankan nama IGS.
Salah satu kegiatan yang mereka adakan setelah pengaktifan kembali organisasi ini adalah perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bertajuk Malam Gaya Nusantara. Di periode tersebut, mereka juga masih aktif mengundang ahli yang berkunjung ke Jogja untuk berbagi tentang banyak topik, salah satunya tentang psikososial kelompok gay.
Pada tahun ini juga, IGS menjadi penyelenggara Kongres Lesbian dan Gay Indonesia (KLGI) yang pertama pada 10-12 Desember 1993.
"Dulu terbentuk gaya-gaya gitu, kita yang paling siap dari segi SDM-nya, makanya kongres pertama kita yang hosting. Waktu itu alasan ke polisinya retret. Yang bikin susunan acaranya mantan frater di Rawaseneng. Kesimpulan kongres itu membentuk jaringan gay dan lesbian waktu itu.
Waktu itu, belum banyak yang ikut dr kelompok Lesbian. Tapi, kita antisipasi ke depan, forumnya dibilang begitu (Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara -KKLGN) supaya membuka diri, waktu itu B (Biseksual) dan T (Transgender)-nya kan belum tau (belum banyak dibahas). Transgender (perempuan) dulu sudah ikut, tapi masuk ke komunitas G. Masih L dan G aja. Tapi yang hadir yang GAYa-GAYa (hampir) semuanya itu." (Andre)
Kongres pertama ini diikuti oleh 32 peserta perwakilan dari 10 kelompok lesbian dan gay di Indonesia. Selama dua hari, kongres membicarakan berbagai macam topik, salah satunya adalah pembentukan jaringan dan ideologi jaringan. Tiga dari enam ideologi yang dibicarakan dalam kongres ini adalah:
Pergerakan lesbian dan gay tidak bersifat elitis. Artinya, kita tidak membeda-bedakan orang dari status sosial-ekonomi maupun pendidikannya. Pergerakan yang demikian juga tidak mengenal diskriminasi dalam segala bentuknya, seperti ras atau suku, agama dan kepercayaan, usia, profesi, serta keadaan fisik dan mental.
Berbagai bentuk homoseksualitas tradisional dihargai sepenuhnya.
Pergerakan lesbian dan gay menyatakan solidaritas terhadap kelompok lain yang tertindas atau yang diperlakukan tidak adil. (GN No 25, Januari 1994)
Sebelum mengorganisasi KLGI, pada tahun 1992, rencana IGS menerbitkan ulang Jaka disambut baik oleh jaringan GAYa NUSANTARA yang berbasis di Surabaya. Jaringan ini juga menawarkan penerbitan majalah GAYa NUSANTARA dan Jaka dalam skema bundling.
IGS/KKGN melakukan peremajaan pada terbitan barunya. Mereka mengganti namanya dari Jaka menjadi Jaka Jaka yang terbit pada minggu kedua setiap bulannya. Dalam Jaka Jaka, IGS juga membuka peluang bagi pembaca untuk menjadi kontributor melalui pengiriman berbagai materi (artikel, foto, ilustrasi, dll). Pada 1994, Jaka Jaka kembali vakum setelah terbit 6 edisi.
Selama vakum, IGS kembali mengalami perubahan dinamika. Beberapa anggota aktif memutuskan untuk me-nonaktif-kan diri dari organisasi untuk berfokus pada hal-hal lain di luar organisasi. IGS pun melakukan penggantian beberapa anggota redaksi untuk media komunitas baru mereka yang edisi perdananya terbit di tahun 1997. Untuk edisi baru ini, mereka mengganti nama Jaka Jaka menjadi New Jaka Jaka. Dengan latar belakang akademis yang dimiliki oleh para anggotanya dan visi baru organisasi ini sebagai kelompok kajian, artikel-artikel di New Jaka Jaka masih memuat banyak artikel akademik. Dalam edisi pertama New Jaka Jaka, mereka menampilkan hasil penelitian mereka terkait mahasiswa gay dan kehidupan mereka di kampus.
Sebagai ruang pertemuan untuk komunitas gay di Yogyakarta, pasca 1993, IGS menjadi salah satu kolaborator bagi kerja-kerja Lentera, PKBI. Mereka turut diundang dalam pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh PKBI. IGS juga diajak untuk mengorganisasi berbagai pesta yang didukung oleh PKBI, salah satunya Romansa Biru tahun 1997. Dalam pesta-pesta ini, panitia menyiapkan penampilan operet yang bicara tentang HIV/AIDS.
"Kita dulu jejaringnya sama PKBI. KIta pernah kerja sama bareng mereka, kita ke sana. Jadi kita cuman diundang, kita dateng. Jadi kalau kayak pelatihan, mereka yang bikin. Pernah ada organisasi pertamanya yang lahir dari PKBI (komunitas Pelangi Indonesia)." (Andre)
Pada tahun 1999, jaringan yang dipertemukan melalui program Lentera PKBI mengadakan Kerlap-Kerlip Warna Kedaton (KKWK) yang pertama di Kaliurang. Kegiatan ini dilakukan untuk menambah dan mengenal jejaring organisasi berbasis komunitas yang ada di luar Yogyakarta. Mereka menyediakan tempat bagi organisasi untuk melakukan showcase dokumentasi kegiatan mereka. IGS juga diundang untuk mempresentasikan New Jaka Jaka. Karena banyaknya acara untuk komunitas gay dan beberapa ruang (diskotek dan bar) yang dijadikan tempat nongkrong oleh komunitas ini, mingguan Minggu Pagi sempat membuat artikel satu halaman--masih dalam pencarian--berjudul, “Jogja, Surganya Gay.”
Pada pertengahan tahun ini juga, tanggal 1 Juli, hadir organisasi berbasis komunitas gay lain bernama JALER EKACIPTA INDONESIA (JAKIN). Sama seperti IGS, pengurus komunitas ini juga gabungan antara karyawan dan mahasiswa. Sesuai dengan visi “Pribadi gay yang percaya diri”, pendekatan yang dilakukan oleh JAKIN banyak berkaitan dengan program-program penerimaan diri dan visibilitas gay di masyarakat, melalui isu kesehatan publik. Mereka membuat ruang konsultasi, diskusi, seni dan pelatihan untuk mewujudkan program-program mereka.
Sebagai salah satu media komunikasinya, JAKIN menerbitkan buletin. Kami memiliki 3 edisi JAKIN yang berisi beragam informasi dan edukasi tentang identitas diri sebagai gay, hubungan romantis dan tulisan akademis bertema HIV/AIDS. Selain itu, JAKIN juga menyediakan rubrik feature yang berisi tentang tetek-bengek kehidupan gay di Yogyakarta, mulai dari tempat nongkrong hingga kebiasaan-kebiasaan mereka.
Salah satu yang menarik dari publikasi JAKIN adalah ulasan mereka tentang si-Al atau Alun-Alun Lor (Utara), yang saat itu menjadi salah satu titik pertemuan bagi komunitas gay di Yogyakarta. Selain Si-Al, komunitas juga menjuluki Alun-Alun Lor sebagai kampus.
Dan paling menarik di SiAl adalah wartegnya mami atau juga disebut kafe mami. Terletak di samping barat pas pinggir lapangn. Di situlah para gay, dari brondong hingga estewe, sering transit sebelum caca-marica bagaikan seterikaan di lapangan atau di catwalk. Apa salahnya sih absen dulu daripada di DO, begitulah kalau mereka sedang berkelakar. (Jakin, Edisi 1 (Juli 1999) halaman 33)
Dinamika IGS dan New Jaka Jaka di tahun 1999 mengalami perubahan. Selain menjadi kolaborator untuk pelatihan dan sosialisasi kesehatan publik dan HIV/AIDS oleh Lentera, IGS juga mengembangkan afiliasi politiknya. Pada masa ini, AR Faisal terpilih menjadi koordinator IGS dan membawa angin baru bagi perkembangan organisasi ini. AR Faisal dikenal sebagai mahasiswa yang terlibat dalam banyak gerakan Partai Rakyat Demokratik (PRD) di kampus.
Hal ini tercermin dalam dua terbitan terakhir New Jaka Jaka di tahun 1999. Mereka mulai mencantumkan tagline “Jaringan Aksi untuk Kesetaraan” di halaman judul. Nada yang ditampilkan dalam artikel-artikel mereka juga mulai dihiasi dengan jargon-jargon politik yang berkiblat pada wacana “Demokrasi Baru” pasca reformasi.
Lepas dari apakah isyu gay ini hanyalah sekedar sebuah "komoditi" politik dan sarana taktis untuk mendongkel perolehan jumlah suara, kenyataannya, isyu ini sangat menarik untuk kita cermati dan diskusikan.
Yang jelas PRD (Partai Rakyat Demokrasi) sebagai salah satu partai peserta pemilu yang di dalam "Manifesto Politik-nya" menyebutkan secara jelas dukungan dan pemihakan terhadap perjuangan anti diskriminasi oleh kaum gay....di dalam kerangka garis perjuangan (platform) partai untuk menegakkan Demokrasi Sejati, telah mencantumkan isyu perjuangan gay, sejak dideklarasikannya Partai pada tahun 1996 (jamannya ORBA). Setidaknya ini menepis anggapan bahwa yang menjadi target PRD hanyalah sekedar mengumpulkan jumlah suara. (AR Faisal dalam New Jaka Jaka, Nov 1999)
Keterlibatan Faisal dalam IGS dan pertemuannya dengan ideologi PRD membuka pendekatan-pendekatan gerakan baru dalam pengorganisasian komunitas queer di Yogyakarta. Jika sejak tahun 1993, gerakan ini banyak dipengaruhi oleh program-program berbasis respon atas HIV/AIDS yang diorganisasi oleh Lentera, PKBI; masuknya Faisal dan keterlibatannya dalam Komunitas Pelangi Jogja, nantinya, menjadi pembuka jalan atas pendekatan gerakan yang berbasis pada HAM.
Gerak komunitas, sekaligus gerak organisasi kembali mengalami perubahan dinamika pasca reformasi. Pada akhir tahun 90-an, mengutip istilah yang dipakai oleh Ian Wilson dalam Politik Jatah Preman, “para spesialis kekerasan” mulai mendapat legitimasi dari “pengusaha kekerasan”. Salah satu korban dari proses pelanggengan kekuasaan melalui kekuatan koersif ini adalah kelompok minoritas seksual dan gender.
Gambar: Kolase Artikel Penyerangan KKWK, Koleksi Pascal
Salah satu upaya kekerasan pertama yang ditujukan kepada komunitas LGBT yang memengaruhi dinamika di Yogyakarta adalah ancaman atas Rakernas Jaringan Lesbian dan Gay Indonesia (JLGI) di Solo pada September 1999 oleh Kelompok Remaja Masjid Jateng.
situasi kemudian memang terus memburuk, dan rencana kelompok remaja Masjid berkembang menjadi pengecekan keseluruh hotel yang ada dikota golo, dengan target menangkap Dede detomo bahkan sampai ancaman untuk membunuh seluruh peserta Rakernas. Sayang sekali tidak ada counter/antisipasi dari fihak panitya. pun kemudian, ketika para peserta pakernas mulai berdatangan, tidak coba dilibatkan untuk turut mencari jalan keluar terhadap situasi yang makin buruk. peserta hanya diberi kabar tentang yang telah, terjadi, dan rakernas dibatalkan sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. pesrta dipersilahkan memanfaatkan fasilitas akomodasi yang telah disiapkan panitya (penginapan dan makan malam) tanpa ada agenda apapun. (AR Faisal, New Jaka Jaka #6)
Dalam rilis yang dimuat di New Jaka Jaka #6, Faisal mengkritik komunikasi yang tidak baik antara panitia dan peserta Rakernas di situasi darurat. Faisal juga memberi catatan tentang kerusakan kantor PRD Solo yang waktu itu berperan dalam mengalihkan massa Kelompok Remaja Masjid Jateng.
Imbas dari penyerangan ini adalah meluaskan ancaman dan persekusi terhadap acara-acara yang melibatkan komunitas transpuan, gay, dan drag queen; salah satunya pentas di Kafe Wayang, di Jalan Sutoyo. Kafe Wayang aktif menyelenggarakan kegiatan playback* dan lomba pencarian bakat bagi para drag queen di akhir 90-an sampai awal 2000-an.
Catatan: Playback adalah istilah yang dipakai komunitas pada tahun 90-awal 2000-an yang merujuk pada kegiatan lipsync (menirukan sebuah lagu dengan melakukan gerak bibir) yang biasanya (tapi tidak selalu) disertai dengan peniruan kostum dan gestur penyanyi aslinya. Dari pentas atau kompetisi playback ini, Jogja mulai mengenal skena drag queen kontemporer (pasca Glass & Dolls).
Puncak dari rangkaian persekusi atas kelompok queer di Yogyakarta terjadi di akhir tahun 2000 dalam KKWK ke-2 di Kaliurang. Acara ini direncanakan setiap tahun sebagai wadah pertemuan jaringan yang didukung oleh Lentera. Misi utama mereka adalah diskusi dan sosialisasi hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan publik dan HIV/AIDS. Sialnya, kegiatan ini mendapatkan penyerangan tiba-tiba oleh kelompok Gerakan Pemuda Ka’bah.
"Ketika penyerangan, aku ada di lokasi. Waktu itu lagi peragaan busana, aku di panggung. Dari kejauhan ada gerombolan datang. Orang di dalam njagain pintu dan terjadi adu dorong peserta KKWK di dalam sama kelompok GPK di luar. Sambil menahan agar gerombolan tidak masuk, mereka teriak supaya yang lain mengevakuasi diri.
Aku dan dua temanku sembunyi di bawah panggung. Pintu berhasil dijebol. Kami bertiga berusaha gak panik. Eh, ndilalah satu temanku keluar pas ribut-ribut belum selesai. Dia dihantam kursi. Satu teman lain dipukul pake botol. Aku nunggu di bawah panggung sampai situasi kondusif.
Ketika gerombolan GPK ke luar ruangan, mereka ngambilin dompet-dompet peserta, yang lain yang masih di ruangan mulai mengevakuasi diri, aku lari ke kamar. Baru mau ganti baju, sudah ada peringatan gelombang kedua. Aku ngerusak jendela kamar, ngevakuasi teman-teman tapi tidak sempat mengevakuasi diri sendiri. Mereka lari ke hutan di belakang Villa Hastorenggo, aku masuk ke bak di kamar mandi. Ketika gerombolan GPK merazia kamar, aku menenggelamkan diri di bak mandi. Bayangin Kaliurang waktu itu, dinginnya minta ampun. Teman lain cerita, ada yang disiram sop hangat pas ketangkap oleh gerombolan.
Pengalaman ini masih bikin aku trauma. Setiap denger motor bising, aku masih suka deg-degan." (Kusuma Ayu, sekarang ketua IWAYO, penyintas kekerasan KKWK)
Peristiwa tersebut membuat nafas gerakan organisasi LGBT di Yogyakarta tersengal-sengal. Pemberitaan di media yang menyudutkan mereka juga memperpanjang trauma individu yang hadir dan menjadi korban. Setelah kejadian persekusi ini, baik JAKIN dan New Jaka-Jaka tak lagi menerbitkan publikasi mereka.
Pasca penyerangan KKWK, gerak komunitas menjadi lebih sembunyi-sembunyi. Dalam masa sembunyi tersebut, individu-individu yang sering terlibat dalam acara maupun pengorganisasian acara--seperti Romansa Biru dan KKWK--mulai mencari siasat untuk berkumpul dan merayakan hobi mereka berpentas sebagai drag queen di panggung melalui kelompok bernama G+.
"Setelah hancur-hancuran itu, kita trauma, beberapa bulan gak ngapa-ngapain tapi tetep ngumpul-ngumpul. Terus akhirnya, ada yang bantu cariin job-job di Hyatt dan kita show, tetap ngisi acara di private party. Kita pakai nama G+, sekitar tahun 2001. Aku nyebarin kayak zine G+ di acara valentine di Semarang, aku sebarin fotocopyannya gitu.
Terus akhirnya, kita kasih nama G+ aja, munculnya gak di acara gede itu. Tapi lumayan, sempet dapet acara, setiap malam tahun baru di Papillon.
G+ itu grup, bisa banyak orang, ganti-ganti gitu. Kami waktu itu sempat dipotret untuk kaver Gaya Nusantara, G+nya udah lama, terus diajak untuk foto. Jadi, waktu kita masih dalam masa underground." (Uki, salah satu pendiri G+)
G+ pentas dari satu panggung ke panggung yang lain. Di saat yang sama, PKBI melalui peleburan program Lentera dan Sahaja--menjadi Lentera Sahaja (LENSA)--mulai memikirkan tentang pengorganisasian kelompok dampingan mereka secara mandiri. Untuk alasan tersebut, mereka melakukan perekrutan beberapa relawan dan koordinator dari masing-masing komunitas dampingan, dua di antaranya adalah komunitas transpuan dan gay.
Uki, salah satu pendiri G+ dan juga panitia KKWK 1 dan 2, direkrut menjadi salah satu relawan PKBI. Melalui statusnya sebagai relawan, Uki melakukan penguatan komunitas G+. Dalam berbagai pentas, mereka memasukkan isu-isu yang berkaitan dengan kesadaran atas HIV/AIDS. Melalui PKBI juga, Uki bertemu dengan peserta berbagai pelatihan yang berkaitan dengan HIV/AIDS, salah satunya adalah Fasial (IGS) dan Dodok yang waktu itu bekerja di lembaga INSIST Press, Jogja.
Faisal dan Dodok memiliki visi politik yang sejalan, mereka banyak terlibat dalam acara-acara PRD di kampus. Melalui Dodok, Uki mulai terbuka terhadap pilihan-pilihan advokasi komunitas gay yang bisa dilakukan dalam kaitannya dengan HAM. Mereka mulai banyak melakukan diskusi dan pertemuan, salah satunya dengan Mansour Fakih, pendiri INSIST Press.
"Di situ kita diajak sowan ke Pak Mansour Fakih dari Insist. Wah, kita siap dukung, katanya. Terus, gini aja, kalian tau kalau banyak organisasi udah ngomongin HIV/AIDS. Gimana kalau kalian kita support, berani gak ngomongin advokasi sama human rights untuk orientasi seksual.
Dengan dorongan-dorongan itu, akhirnya kita bikin organisasi namanya Pelangi Jogja. Akhirnya, kita dikasih support dari insist bentuknya pelatihan yang ngomongin human rights, didatengin orang LBH dan tokoh-tokoh HAM di Jakarta, kita dilatih itu. Teman-teman yang ikut pelatihan itu yang menghidupkan Pelangi Jogja itu.
Di Pelatihan itu, kita dikasih pembekalan untuk bisa menerima diri sendiri dulu, kayak pokoknya, kita waktu itu didorong untuk mengubah pikiran kalau gay itu bukan aib. Dari situ, coming out nanti dulu, atau ga usah gapapa. Yang penting coming in. Di situ. Terus advokasi juga, ada yang ngajarin, step apa yang harus diambil, siapa aja yang bisa dihubungi kalau ada kekerasan gino-gini." (Uki)
Pertemuan dengan Mansour menjadi titik awal mereka untuk membentuk Komunitas Pelangi Jogja. Dalam catatan kami, Komunitas Pelangi Jogja adalah komunitas pertama di Yogyakarta yang melibatkan identitas B (Biseksual) dan T (Transgender) dalam rumusan latar belakang pendirian organisasi mereka.
...Berdasarkan itulah, maka kami yang berorientasi seks sebagai homoseksual berkeinginan untuk berkreasi dan belajar bersama dengan sesama manusia yang lain, tanpa melihat orientasi seks atau dikotomi lainnya. (Rumusan Latar Belakang pendirian Komunitas Pelangi Yogyakarta)
Sesuai dengan visi komunitas untuk menciptakan kebersamaan tanpa diskriminasi dan misi pembentukan jaringan, Komunitas Pelangi Jogja mengadakan berbagai acara yang melibatkan lembaga advokasi dan jaringan sipil non-LGBT, seperti LBHaM dan ELSAM. Dalam kegiatannya, Komunitas Pelangi Jogja memiliki dua program; Satu Hati yang berfokus pada kegiatan charity dan People Like Us (PLU) yang berfokus pada advokasi dan pendampingan kasus bagi kelompok LGBT.
Catatan: PLU diambil dari istilah yang dipopulerkan oleh Marriage Project Hawai’i. Mereka adalah organisasi gay yang memperjuangkan hak kesetaraan pernikahan bagi komunitas gay. Istilah ini mulai dikenal di Asia Tenggara ketika pada tahun 1993, salah satu grup lobby kebijakan di Singapura memakainya sebagai nama organisasi untuk mendorong pengakuan resmi negara atas komunitas gay dan lesbian. Bersamaan dengan itu, di Malaysia dan Singapura, PLU berkembang menjadi slang di kalangan subkultur gay yang merujuk pada komunitas mereka. Di awal 2000-an, istilah ini juga sering dipakai di Yogyakarta untuk merujuk individu LGBT. Pemakaiannya seperti, “dia itu PLU juga.”
Pada tahun 2005, Komunitas Pelangi Jogja terpecah setelah dua pendirinya, Dodok dan Yatna memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Di sana, Dodok bekerja di Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI). Lewat pekerjaan barunya tersebut, Dodok bertemu dengan King Oey. Bersama dengan lima orang lain, mereka mendirikan Federasi Arus Pelangi pada Januari 2006.
Selepas kepergian Dodok dan Yatna, Komunitas Pelangi Jogja tidak banyak melakukan kegiatan. Semangat mereka tetap terbawa dalam kegiatan-kegiatan Satu Hati dan PLU. Untuk meneruskan visi misi Komunitas Pelangi Jogja, para anggota yang masih bertahan mendirikan organisasi baru yang menggabungkan PLU dan Satu Hati (PLUSH) sebagai nama. Organisasi ini resmi berdiri pada tahun 2008.
Lima tahun sebelum PLUSH, di tahun 2003, kelompok relawan yang tergabung di PKBI menginisiasi rencana pembentukan organisasi yang berfokus pada kesehatan seksual dan reproduksi, respon terhadap HIV/AIDS dan edutainment. Gagasan utama pendirian organisasi ini adalah meningkatkan beragam upaya pencegahan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual di kalangan orang muda di Yogyakarta. Organisasi ini akhirnya berdiri di tanggal 15 Februari 2004 dengan nama LSM Vesta, yang pada tahun 2016 resmi menjadi Yayasan Vesta Indonesia.
Selain gerakan-gerakan yang berbasis komunitas LGBT, di awal tahun 2000-an, gerakan berbasis perempuan juga punya andil dalam pembentukan kesadaran tentang pentingnya organisasi bagi kelompok lesbian, biseksual perempuan dan transgender perempuan dan laki-laki (LBT). Beberapa organisasi atau jaringan yang terlibat dalam gerakan ini merumuskan keterbukaan mereka terhadap isu-isu LBT sebagai bagian dari misi penciptaan kesetaraan gender yang interseksional.
Tergabungnya organisasi berbasis komunitas LGBT dalam gerakan sipil dan munculnya ragam pendekatan dalam aktivitas mereka adalah salah satu titik awal untuk mengembangkan interseksionalitas gerakan queer di Yogyakarta. Kesamaan latar belakang dan visi membuat organisasi-organisasi ini (PLUSH, Vesta, Kebaya) membentuk jaringan LGBT Yogyakarta. Melihat perubahan dinamika gerakan, mereka mulai memasukkan isu dan merangkul masyarakat miskin kota, pekerja seks dan anak jalanan dalam gerakan yang dinamai Jaringan untuk Keberagaman (JAMGAMAN). Dalam perkembangannya, gerakan-gerakan masyarakat sipil pro-demokrasi mulai menyediakan ruang negosiasi bagi individu dan komunitas queer untuk ikut dalam kegiatan mereka.
Penutup
Rangkaian presentasi #ArsipTerbuka dibuka dengan workshop Hidupnya, Hidup Begitu Saja selama 2 (dua) hari (11-12 Februari 2022) untuk menguji coba perayaan komunal atas materi arsip melalui kegiatan membaca dan menulis ulang. Workshop ini melibatkan teman-teman yang sudah berinteraksi dengan isu queer melalui aktivitas penulisan, pengorganisasian, akademis, dll. Pendekatan wiki dipilih untuk mengakomodasi ragam penulisan rintisan (singkat, informatif). Tulisan rintisan ini diharapkan bisa mengundang kolaborasi dari para pengguna wiki yang lain untuk mengakomodasi memori yang bersifat personal.
Dalam workshop ini, kami berkolaborasi dengan Hilman Fathoni (Perpustaxaan) dan WikiMedia dalam pembuatan platform rintisan bernama wiki queer Indonesia (WIQI). Platform rintisan ini dipakai sebagai uji coba untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan tentang keamanan (bagi subjek tulisan dan bagi subjek pengguna), sumber non-formal, moderasi dan hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan platform bertema queer di Indonesia. Untuk sementara waktu, kami sedang bereksperimentasi dengan platform lain bernama "You and I Need Wiki" yang berbasis Google Docs.
Rangkaian selanjutnya adalah pembuatan halaman #ArsipTerbuka online ini. Materi-materi yang telah terkumpul dibagi ke dalam beberapa fragmen Merekam, Mencari, dan Menemukan dan direfleksikan. Bersamaan dengan #ArsipTerbuka, kami juga melakukan pemutaran Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta, sebuah pementasan yang melibatkan teman-teman transpuan di Yogyakarta produksi Teater Gardanalla dan FKY XX 2008.
Sebagai penutup, pada Rabu, 16 Februari 2022, 19.00 PM, kami berbincang dengan Arum Marischa, Kusuma Ayu dan Maria Novika tentang keterlibatan mereka dalam Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta.
Queer Indonesia Archive berterima kasih kepada Kamu yang telah bergabung di perjalanan menelusuri salah satu koleksi kami. Materi-materi dari Yogyakarta yang ditampilkan dalam #ArsipTerbuka ini akan kami proses sebelum masuk ke database utama. Silakan cek website kami untuk melihat materi-materi lain.
Kami ingin berterima kasih secara khusus kepada Riksa Afiaty, Theodora Agni, Maria Tika, Wilda Yanti, Fredy Hendra, Nella Nelsky, Maria Uthe, Maya, Ingo dari Tim Marantau dan Goethe-Institut Indonesia untuk fasilitasinya. Kami juga ingin berterima kasih kepada Joned Suryatmoko, Koken Ergun, Afra Suci, Bu Shinta, Mami Vinolia, Ma Tadi, Mami Rully Malay, Kak Jenny, Mas Mario Pratama, Ithonk, Firdhan, Kak Sheila, Ryan Kobari, Ika Ayu, Ayu Laras & Keluarga Mami Henny, JP, Oma Dayat, Jati Prabowo, Arum Marischa, Kusuma Ayu, kak Widi, Mami YS, Mas Gama dan Keluarga PKBI, Pak Andre, Bu Dina, Nino, Babam, Didin, Nisa, Gita, Ape dan keluarga KUNCI, Pitra, Veri, Windi, Tiar, Edo, Maliki, Emile, Ajeng, Tyas, Jessica, Himas, Rafa, Ken, Adien, Cahyo, Bianto, Rachmat, Hilman, Jogja Library Centre, Kolsani, Pak Sajiyo KR, Bu Neni dan Pak Agung, IVAA dan pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu atas sumbangan waktu, saran, tenaga dan cerita dalam proses pengumpulan materi sehingga #ArsipTerbuka bisa terlaksana.
#ArsipTerbuka ini adalah bagian dari Residensi MARANTAU di Yogyakarta yang dikelola oleh Riksa Afiaty dan Theodora Agni dengan dukungan dari Goethe-Institut Indonesia.